masjidasmaulhusna18@gmail.com
Jalan Raya Kelapa 2 No 30 Tangerang Banten

WEBSITE RESMI MASJID RAYA ASMAUL HUSNA GADING SERPONG

logo-1 - Salin
Ma’na dan Tujuan Lailatul Qadar

Bulan Ramadhan memiliki berbagai keistimewaan, diantara sekian banyak keistimewaan salahsatunya ialah Lailatul Qodr yang diturunkan di sepuluh hari terakhir. Keistimewaan yang dimilikinya ialah bahwa malam tersebut lebih baik dari seribu bulan.

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. (QS. Al Qodr : 3)

Nilai ibadah yang dilaksanakan ketika malam Lailatul Qodr setara dengan ibadah 83 tahun. Lailatul Qodr hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW karena umur hidupnya rata-rata tidak sampai 100 tahun.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir menjelaskan ada tiga pendapat mengenai asbabun nuzul surat ini. Namun, satu pendapat tertolak. Sehingga, tinggal dua pendapat yang bisa menjadi rujukan.

Pertama, Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Hasan bin Ali bahwa lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan. Turunnya surat tersebut karena perbuatan buruk Bani Umayyah kepada Ali bin Abu Thalib selama seribu bulan. Namun, pendapat ini tertolak. Sebab surat ini turun jauh sebelum terjadinya perselisihan Ali dan Muawiyah. Dan masa daulah Bani Umayyah berlangsung 92 tahun, bukan seribu bulan (83 tahun).

Kedua, Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid, dia berkata, “Dulu di kalangan Bani Israil ada seorang laki-laki yang shalat malam hingga waktu Subuh. Ia juga berjihad memerangi musuh di waktu siang hingga menjelang malam. Ia melakukan itu selama seribu bulan. Lalu Allah menurunkan surat ini. Menjelaskan bahwa lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan amal tersebut.

Ketiga, Ibnu Abi Hatim dan Al-Wahidi meriwayatkan dari Mujahid bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebutkan seorang laki-laki dari Bani Israil berjihad di jalan Allah selama seribu bulan. Kaum muslimin takjub dengan itu, lalu Allah menurunkan Surat Al Qadr. Bahwa lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan jihadnya Bani Israil.

Kisah ini membuat kagum kaum muslimin. Mereka membayangkan begitu mulianya laki-laki tersebut dengan perilakunya yang beribadah selama 1000 bulan. Sanggupkah mereka melampaui prilaku seperti itu. Kemudian malaikat Jibril membawa wahyu surat Al Qodar yang menceritakan bahwa umat muslim yang mendapatkan lailatul qodr pada bulan Ramadhan pahalanya lebih baik dari ibadah seribu bulan.

Kata Qadr sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti:

  1. Penetapan dan pengaturan, sehingga Lailatul Qodr dipahami sebagai malam penetapan Allah untuk perjalanan hidu manusia.
  2. Kemuliaan, malam itu adalah malam mulia. Ia dipilih menjadi malam diturunkannya Al Qur’an.
  3. Sempit, Malam tersebut dinamakan sempit karena banyakna malaikat yang turun ke bumi.

Ketiganya dapat disatukan menjadi satu makna yaitu malam yang mulia, yang bila diraih akan menetapkan masa depan manusia dan pada malam tersebut para malaikat turun ke bumimembawa ketenangan dan kedamaian. Nabi Muhammad mengatakan bahwa Lailatul Qadar akan turun pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Orang yang suci, sadar, dan taat akan mendapatkannya. Muslim melewati tahapan Rahmah (kasih sayang) selama sepuluh hari pertama, dan tahapan Maghfirah (pengampunan) selama sepuluh hari kedua. Pada sepuluh hari terakhir, atau "final" bulan Ramadhan, mereka mencapai kesucian, yang membuat mereka terpilih.

Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar akan merasakan hadirnya malaikat pada malam hari sehingga jiwanya selalu terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan hatinya salaam (rasa aman dan damai) yang tak terbatas sampai fajar malam Lailatul Dadar, bahkan sampai akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian kelak.

Lailatul Qadar yang turun kepada Rasulullah Saw terjadi pada bulan Ramadhan pada saat melakukan perenungan diri di Gua Hira' tentang tauhid dan kehidupan manusia. Saat jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Al-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan bimbingan dari Allah Swt, sehingga terjadi perubahan total dalam perjalanan hidup Nabi Saw, bahkan perjalanan hidup umat manusia. Ajaran yang diturunkan oleh Allah Swt pada Lailatul Qadar adalah kitab Al-Qur'ân sebagai pedoman umat manusia.  Ayat Al-Qur'an al-Karîm yang diturunkan oleh Allah Swt pada tanggal 17 Ramadhan kepada Nabi Muhammad Saw adalah Iqra': "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya" 123 Ayat ini menunjukkan bahwa kelebihan umat manusia adalah ilmu yang dapat diperoleh melalui membaca dan tulisan (qalam).

Dalam kontek membaca Al-Qur'an terdapat tiga tipe pembaca: Pertama, membaca Al-Qur'an sebagai ritual, penyejuk hati dan rutinis sebagai muslim. Bacaan ini hanya berpengaruah kepada aspek ibadah yang berhubungan dengan Allah semata. Kedua, membaca Al-Qur'an yang sekaligus memahami maknanya, sehingga pembaca memahami kandungan Al-Qur'an Al-Karim dan mengagumi keagungannya. Namun belum tentu membacanya untuk dapat diterapkan dalam kehidupannya. Tipe ini dapat dilakukan oleh orang yang beriman dan yang tidak beriman. Ketiga, membaca Al-Qur'ân Al-Karîm selalin untuk ibadah dan pengetahuan juga untuk diterapkan dalam setiap langkah kehidupannya. Pola baca yang ketiga inilah yang dianjurkan untuk setiap muslim yang membaca Al-Qur'ân Al-Karîm.

Sebab, ayat Iqra' yang diturunkan pertama kali dalam wahyu Allah Swt. bersambung dengan menyebut nama-Nya. Ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'ân dan membaca fenomena (ayat Al-Qur'ân dan ayat kauniyah/fenomena alam) tidak boleh dilepaskan dengan teologi dan keimanan. Intelektualitas mestinya paralel dengan keimanan, demikian juga keimanan harus diringi dengan pengetahuan, Intelektualitas yang lepas dari keimanan maka akan melahirkan kezaliman dan malapetaka yang menjauhkan dari Allah Swt. Nabi Muhammad Saw bersabda: "Barangsiapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak mendapat petunjuk Allah maka ia akan tambah jauh dari Allah. " Demikian juga keimanan tanpa pengetahuan akan melahirkan fanatisme dan taklid buta, sehingga agama jauh dari misi sebenarnya.

Membaca harus menjadi pijakan dalam meraih ketenangan dalam beriman kepada Allah Swt. Kerangka berpikir harus berpijak kepada tauhid yang mengantarkan kepada kesalehan intelektualitas. Demikian juga keimanan harus berpijak kepada pengetahuan sehingga menjadi mukmin yang bertaqwa. Nah, Lailatul Qadar yang membawa Al-Qur'ân semestinya membawa perubahan umat muslim kepada kehidupan yang damai dengan pengetahuan dan keimanannya.

*Amir Ma’ruf, M.Ag

Disampaikan dalam acara ceramah tarawih

Masjid Raya Asmaul Husna Gading Serpong

Tanggal, 21 Maret 2025